About Me

My Photo
Purbo Ari C
Mencari Sahabat Lebih Sulit Dari Pada Mencari Teman...
View my complete profile

Blogroll

Share
free counters
Free Download Mp3 Indo,Campursari,Dangdut Koplo,Software & Film Terbaru

Labels

Belanja On Line


Masukkan Code ini K1-F9D715-C
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia

ShoutMix chat widget
Showing posts with label Feshion. Show all posts
Showing posts with label Feshion. Show all posts

India di Catwalk Dunia

SIAPA yang tidak tahu eksotisme India? Selain keindahan alam dan tradisinya, fashion India mulai mencuri perhatian. Bahkan, kini industri fashion India semakin merangsek masuk dalam percaturan mode dunia.

Lihat saja pergelaran mode akbar di berbagai belahan dunia. Sentuhan eksotisme India pasti tidak ketinggalan hadir, bukan hanya dari para desainer kenamaan yang menghadirkan motif sari maupun bentukan celana jodhpur, tapi sepak terjang perancang Negeri Taj Mahal yang kini telah sampai di panggung internasional. Hal itu terjadi bukan tanpa perjuangan panjang.

Fashion India bahkan dulu hanya dianggap sebagai bagian dari kebiasaan kaum hippie yang sempat menjamur di tahun 60-an dan 70-an. Namun mendekati abad ke-21, fashion India mulai menunjukkan taringnya. Dimulai dari penampilan memukau desainer berbakat Ritu Beri yang mempersembahkan koleksi musim panas di ajang La Semaine de la Haute Couture, Paris.

Selanjutnya, gerbang menuju panggung dunia seakan terbuka lebar dan membawa Wendell Rodricks serta Anita Dongre untuk beraksi di perhelatan akbar busana siap pakai di Jerman, IGEDO Fair.

Apa yang menjadikan mode India begitu menarik bagi masyarakat Barat? Eksotisme sudah pasti menempati urutan pertama. Namun, bukan hanya itu, para desainer India rupanya kompak mengangkat tradisi negaranya dan menawarkan sesuatu yang berbeda dari yang selama ini disajikan oleh industri fashion dunia.

Tidak lagi mengandalkan garis rancangan minimalis dalam nuansa pastel nan lembut, mereka justru menggebrak dunia fashion dengan menghadirkan koleksi berwarna agresif yang dipenuhi embellishment rumit.

"Warna adalah salah satu hal yang membuat fashion India kuat," ujar Anupama Dayal, salah satu desainer India terfavorit saat ini.

Gelar itu didapatkannya karena kecintaannya pada tekstil lokal yang diperkaya motif cetak buatan tangan. Hasilnya, koleksi yang mencerminkan keindahan etnis India sekaligus mampu tampil dalam nuansa kontemporer. Rupanya, bukan hanya desainer lokal yang gemar menggunakan material khas India. Para perancang dari rumah mode ternama pun tidak ketinggalan mengaplikasikan kain etnis itu.

Sebut saja, Giorgio Armani, Ferre,Valentino, Oscar de la Renta, Christian Lacroix, Emmanuel Ungaro, juga Jean Paul Gaultier, yang bahkan mengadakan kontrak kerja sama dengan seniman tekstil India. Bukan hanya itu, Gaultier pun mempersembahkan koleksi khusus yang mengapresiasi India melalui "Indian Chiaroscuro".

Menurutnya, koleksi tersebut merefleksikan kekayaan tekstil India yang ditampilkan dengan desain kontemporer. Adapun Armani menampilkan karya unik yang diadaptasi dari bentukan busana khas India, salwar kameez. Kecermatan dalam hal detail dan desain yang eksotis tentu tidak hanya memesona para desainer, tapi juga barisan selebriti dunia dan public figure

Desainer India lainnya yang juga ikut berkiprah di panggung internasional adalah Agnimitra Paul yang selalu sukses menghadirkan nuansa glamor ke atas catwalk. Seperti juga desainer India lainnya, Agnimitra banyak menggunakan detail sequin, beads, dan motif tradisional. Hanya saja, koleksinya hadir dalam rancangan yang bergaya flamboyan dengan sentuhan ala barat.

"Bagi saya, yang terpenting adalah makna di balik tiap rancangan, yakni menjadikan para wanita India lebih percaya diri dengan budayanya," terangnya.

Sementara Ritu Beri mempersembahkan nuansa misterius khas India melalui berbagai material eksotis seperti bandhini silk, brokat India, dan motif Mogul yang digunakan menjadi bentuk sarung, tunik, serta celana jodhpur. Tidak ketinggalan patola khas Gujarat dan bagh asal Punjab.

Eksotisme itu juga yang membuat Ritu sukses menapaki karier di dunia barat, termasuk memiliki gerai eksklusif di Bergdorf juga rangkaian butik di seluruh dunia. Namun, yang pantas mendapat acungan jempol tentu Tarun Tahliani. Salah satu desainer top India ini tampaknya tidak pernah lelah mempromosikan mode negaranya di dunia internasional. Karenanya, wajar bila Tahliani banyak menghadirkan koleksi adibusana juga gaun pengantin tradisional.

"Fashion tradisional India kini menjadi inspirasi bagi mode Barat, terlebih dengan aplikasi batuan serta teknik sulam tangannya yang kaya," ujarnya.
layaknya Putri Diana semasa hidupnya, Hillary Clinton, Catherine Zeta Jones, dan Sharon Stone.

Dazzling Batik dari Allure

RAMADAN dan Idul Fitri kerap dikaitkan dengan warna putih yang melambangkan kesucian, tapi bagi Allure,warna justru menambah semarak di bulan penuh berkah.

Menyambut datangnya Ramadan dan Idul Fitri 1429 H, Allure mempersembahkan rangkaian koleksi terbaru. Bertajuk Dazzling Batik, koleksi yang dipertunjukkan di Atrium Grand Indonesia tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Exobatica yang digelar Grand Indonesia Shopping Town.

"Untuk show kali ini, kami bekerja sama dengan Grand Indonesia, hanya saja momennya memang kami sesuaikan dengan Ramadan," ujar Direktur Operasional Allure Zakaria Hamzah.

Dazzling Batik, ungkap Zaka, mencerminkan level baru dari gaya desain batik kontemporer ala Allure.

"Sekarang ini, batik sudah dapat diterima masyarakat luas. Karenanya, kami ingin memberikan alternatif baru, tidak hanya dari permainan motif tapi juga melalui garis rancangan yang lebih playful dan variatif," terangnya.

Hal tersebut terlihat dari rangkaian busana yang ditampilkan Allure. Terbagi dalam tiga sekuen, Allure mencoba menghadirkan berbagai gaya yang bisa disesuaikan dalam berbagai kesempatan. Koleksi ready- to-wear yang menjadi pembuka difokuskan pada busana sehari-hari, namun dengan garis yang lebih modern.

Batik tidak lagi tampil sebagai atasan basic, melainkan terlihat lebih sassy dalam bentukan dress, blouse, ataupun tunik yang dipermanis detail menarik, seperti lipit, opnaisel, ataupun permainan payet.

Sementara untuk pria, Allure masih tetap menghadirkan gaya klasik kemeja batik. Hanya saja diperkaya dengan sentuhan terkini, baik dari segi detail maupun warna. Tidak lagi terbatas pada warna cokelat, kemeja pria hadir dalam palet yang lebih variatif. Merah, hijau, jingga, serta kelabu dengan corak asimetris menjadikan koleksi Allure terlihat atraktif.

"Pada intinya, Allure ingin menampilkan koleksi busana sehari-hari yang ringan,nyaman,tapi tetap bergaya, karenanya kami banyak menggunakan material viscose dan katun," terang Zaka.

Adapun, khusus untuk koleksi Lebaran, Allure menyajikan rangkaian busana dengan garis yang berbeda.Tidak lagi pas badan atau mengikuti siluet tubuh, melainkan lebih loose dan bervolume.

Potongan asimetris dan bias cut membuat busana terlihat feminin, sementara aksen kerut memberi sentuhan manis pada busana yang kebanyakan berbentuk batwing ataupun trapeze.

"Untuk koleksi Lebaran memang dibuat lebih simpel, tapi tidak melulu tunik, ada juga bentukan-bentukan lain yang mudah dipadu-padankan, karena tujuannya memang agar lebih bisa disesuaikan dengan baju yang sudah dimiliki konsumen, sehingga mereka bisa lebih kreatif dalam bergaya," ujar Zaka, sembari mengatakan koleksi Lebaran memiliki kisaran harga antara Rp900 ribu-2 juta.

Di sesi terakhir, Allure mempersembahkan rangkaian evening dress yang kontras dengan desain sebelumnya. Koleksi gaun cocktail dan gaun malam yang disajikan tampak lebih mewah dan glamor dengan permainan kristal swarovski, manik dan mutiara yang semakin menambah nilai cita rasa pada helaian batik nan eksotis.

"Koleksi evening memang kami hadirkan lebih berani, baik dalam hal warna maupun desain. Ini juga sekaligus memperkenalkan lini made to order dari Allure, yang ternyata justru sangat diminati konsumen. Beberapa musim ke belakang sudah banyak konsumen yang meminta koleksi khusus," ungkap Zaka, yang mengatakan koleksi tersebut bisa mencapai harga di atas Rp10 juta.

Allure memang sengaja menyajikan rancangan yang kaya warna, motif, serta aksen. Tak jarang dalam satu busana terdapat pola batik yang bertabrakan. Selain memberikan gaya baru, hal tersebut juga sukses menjadikan busana besutan Allure berbeda.

Belum lagi dengan tambahan detail sulam tangan, embroidery, beads, dan batuan yang semakin memperkaya koleksinya. Mengakomodasi unsur dinamis dan praktis dari koleksinya, Allure menggunakan bahan yang ramah untuk iklim Indonesia layaknya, katun bertekstur maupun emboss, sutera ATBM, sutera sifon, dan juga sutera organdi. Meski begitu, Allure tidak sembarangan mengolah batik.

Tentu terdapat pakem tertentu yang tidak boleh dihilangkan, mengingat batik merupakan bagian dari tradisi budaya luhur masyarakat Jawa. "Pakemnya kita pertahankan, hanya warna dan motifnya yang kita sesuaikan dengan tren," pungkas Zaka.

Revolusi Tren Busana Muslim

PERKEMBANGAN pesat lini busana muslim membawa kecenderungan baru dalam bergaya. Kini muslimah bisa bereksperimen dengan busana.

Menilik perkembangan busana muslim, rasanya pelaku mode Indonesia patut bersyukur. Pasalnya, lini busana yang pada awalnya dipandang rendah serta kental dengan stereotip negatif ini, sekarang menjelma menjadi gaya hidup wanita urban.

Busana muslim kini dikenakan berbagai kalangan dan butik-butik busana muslim eksklusif pun bermunculan. Lini ini juga telah dimasukkan dalam agenda pergelaran mode, demi merumuskan tren busana muslim tahunan.

Evolusi pun terjadi. Busana muslim tidak hanya terbatas pada gamis, tunik, dan abaya, tapi semakin meluas. Bentuk-bentuk baru diperkenalkan. Kaftan dan djellaba yang dulu hanya dikenakan penduduk padang pasir, kini menjadi tren baru. Sementara bentukan lama dimodifikasi dengan garis rancang yang lebih kontemporer. Membawa era baru busana muslim yang lebih mudah diterima masyarakat.

Salah satu tren busana muslim yang sedang naik daun adalah paduan gaya bohemian dan eklektik yang unik. Gaya bohemian ditandai dengan gaun-gaun panjang longgar dan flowy, serta warna-warna terang seperti yang ditampilkan Musa Widyatmodjo.

Unsur eklektik terlihat dari aksesori tradisional. Gaya eklektik bohemian juga dihadirkan Monika Jufry dengan pencampuran berbagai unsur budaya tradisional dan modern yang dikemas dalam gaun panjang warna oranye dan toska. Bermain dalam nuansa warna yang lebih soft, cokelat dan indigo, unsur bohemian dihadirkan Jeny Tjahyawati dalam gaun panjang loose. Sedangkan Feny Mustafa hadir dengan busana panjang motif floral yang ditumpuk dengan jaket dalam nuansa warna putih dan terakota.

Kendati gaya bohemian yang erat dengan spirit kebebasan menjadi pilihan gaya busana ini, namun menjadi unik bila diterapkan dengan busana muslim yang erat dengan kaidah agamis.

"Dengan memadukan konsep gaya bohemian dan busana muslim, selera pasar diarahkan untuk lebih menonjolkan kebebasan dalam memilih dan mengenakan busana muslim," ujar Musa.

Menurut Musa, gaya bohemian ditandai dengan gaun-gaun panjang longgar. Untuk penampilan yang lebih glamour dipilih warna yang agak cerah.

"Sementara unsur eklektik terlihat dari aksesori tradisional," ujar dia.

Selanjutnya, tren busana muslim juga mengarah pada gaya androgyny. Bahkan, gaya ini memiliki karakter kharismatik saat diaplikasikan dalam busana sehari-hari. Anda pun tidak perlu repot membeli serangkaian pakaian baru untuk mewujudkannya. Cukup berkreasi dengan busana yang sudah Anda miliki. Yang penting, ada garis maskulin dalam total look Anda.

Gaya ini diperlihatkan desainer Anne Rufaidah. Desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) itu menawarkan gaya androgyny melalui penggunaan long coat.

Dilihat sekilas, koleksinya memang tampak feminin, namun sebenarnya mantel yang panjang hingga mencapai mata kaki itu merupakan busana luar para pria Eropa masa lalu. Dengan fasih, Anne memadukan long coat bersama gamis berwarna senada agar kesan anggun tidak langsung menghilang. Adapun citra maskulin hadir melalui garis rancangan yang tegas, bersih, dan minim detail.